Artikel   2024/05/01 20:39 WIB

Nelayan Lingga Utamakan Memilih Tangkap Ikan Bilis dari pada Napoleon, 'yang Sulit Didapat karena Mahal dan Tak Menguntungkan'

Nelayan Lingga Utamakan Memilih Tangkap Ikan Bilis dari pada Napoleon, 'yang Sulit Didapat karena Mahal dan Tak Menguntungkan'
Nelayan Lingga Butuh Bantuan Alat Tangkap Ikan

NELAYAN tradisional di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau [Kepri] memilih menangkap ikan bilis [teri] karena lebih mudah mendapatkannya, selain juga nilai jualnya cukup tinggi dan lebih menguntungkan.

"Jika dapat ikan Napoleon lebih mahal dan menguntungkan tetapi sulit didapat."

"Menangkap ikan bilis itu lebih mudah dibandingkan ikan lainnya, tiga hari melaut bisa mendapatkan sekitar 300 kilogram dan itu tidak perlu berlayar jauh hingga ke tengah laut," kata Rudi, salah toke ikan bilis yang juga pemili kelong di Lingga dalam bincang-bincangnya belum lama ini.

Ia mengatakan, harga ikan bilis masih bertahan tinggi, yaitu sekira Rp100.000 - Rp150.000 per kilogramnya.

Biaya melaut pun, menurut dia, tidak terlalu banyak yang harus dikeluarkan karena menangkap ikan bilis cukup di bagian tepi laut saja dengan menggunankan kelong.

Bagi warga nelayan Desa Busung Panjang, ikan teri atau ikan bilis merupakan salah satu potensi yang ada di laut mereka.

Hasil tangkapan nelayan bilis di desa itu juga lumayan banyak, rata-rata hampir setengah ton per harinya.

“Penduduk Desa Busung Panjang, Kecamatan Kepulauan Posek, , Kabupaten Lingga berjumlah 230 KK, 80% nelayan, khususnya nelayan ikan bilis,” kata Baharudin, Kades Desa Busung Panjang.

Kelong menangkap ikan bilis [teri]

"Selain ikan bilis, kerja pokok lainnya kepiting atau rajungan dari alat tangkap bubu. Untuk potensi nelayan penangkapan ikan bilis di desa Busung Panjang, sangat lumayan, sangat banyak. Seperti yang kita lihat, rata-rata per harinya setengah ton," sebut Baharudin. 

Bahar juga menambahkan kalau hasil laut berupa ikan bilis tersebut dijual ke pembeli yang datang langsung dari daerah Sumatera.

“Untuk buangan atau pelemparan dari nelayan, nanti datang pembelok dari Sumatera. Kadang-kadang mereka bermalam di sini,” tambah Baharudin.

Namun, Kades Busung Panjang ini mengatakan kalau mereka masih terkendala dengan ketersediaan BBM jenis solar dan minyak tanah untuk perebusan dan melaut.

“Kendala untuk nelayan di sini, BBM solar dan minyak tanah. Masih kurang cukup untuk pemakaian nelayan, juga untuk perebusan,” kata Baharudin.

Ikan teri atau ikan bilis merupakan species ikan laut kecil anggota keluarga dari engraulidae.

Warna ikan ini perak kehijauan atau kebiruan yang bisa memiliki panjang maksimum 23 centimeter (cm) dan umumnya ikan ini memiliki panjang maksimum 5 cm.

Moncongnya tumpul dengan gigi yang kecil dan tajam pada kedua-dua rahangnya. Ikan bilis gemar memakan plankton didasar laut.

Ikan teri (Bilis) juga bisa memiliki panjang antara 7-40 cm hidup di daerah pesisir laut yang biasanya banyak tempat hidup plankton yang merupakan organisme hanyut yang berasal dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut.

Mengetahui ini nelayan pun mencari ikan di daerah pesisir laut atau Estuaria bagian pesisir laut yang merupakan tempat pertemuan antara air laut dan daratan (fishing ground).

Ikan bilis dikenal bahan makanan yang memiliki sumber protein kaya akan kalsium.

Ikan bilis [Teri]

Jika melihat kehidupan nelayan di Desa Kualaraya hari-harinya yang bergelut mencari ikan bilis sebagai mata pencaharian dan kehidupan ekonomi desa.

Puluhan kelong bertebaran di laut Lingga. Setiap pagi para nelayan menjemur ikan bilis sejenis ikan teri di sepanjang jalan desa hasil dari melaut dengan kelong.

Bentuk Kelong milik nelayan memang terlihat aneh, sebab tidak pernah dilihat di daerah lain.

Hanya saja keunikan tersebut tidak begitu dihiraukan oleh kebanyakan orang, dianggap juga suatu keunikan biasa masing-masing daerah.

Bahkan, jika nelayan mampu tekun dan sabar mengelola ikan bilis ini tidak menuntup kemungkinan akan besar hasil didapat.

Mendengar perbincangan warga ternyata harga kelong bisa senilai mobil mencapai Rp150 juta.

Kelong dilihat sepele dan unik, tapi Kelong bisa seharga 1 buah mobil. Bahan-bahan apa saja untuk membuat Kelong? Apakah benar seharga sedemikan mahalnya?

Setelah ditelusuri lebih jauh salah satu nelayan kelong bilis, Pak Jang ditemani warga lainnya di Desa Busung Panjang mengaku, harga Kelong sekarang ini memang sudah mencapai seharga Rp. 150 juta,  penyebabnya adalah semakin langkanya kayu khusus untuk membuat Kelong.

Ikan bilis [Teri] dijemur

Kayu yang tahan di air asin (laut) di Pulau Lingga memang sudah berangsur langka, ongkos untuk menebang kayu pun besar selain harga kayu yang mahal juga ditambah biaya mengurus administrasinya, pungutan di laut, upah kapal dan orang yang membawanya semua serba mahal, kata dia berceloteh.

"Nelayan sudah berbulan-bulan tidak lagi membuat Kelong, pasca kayu yang semakin langka."

"Bahkan nelayan yang memesan Kelong kini tidak bisa lagi dilayani. Puluhan kelong tersebar di laut sekarang ini merupakan dan kebanyakan Kelong lama yang sudah berumur 3-7 tahun," kata pak Jang.

Di Desa Busung Panjang hingga pada desa-desa lainnya yang ada di Wilayah Kabupaten Daik Lingga ke lokasi pembuatan kelong sangat jarang ditemui.

Kalaupun dilokasi ada empat kelong yang naik ke darat untuk diperbaiki. Tetapi menurut Pak Jang, tidak semua orang bisa membuat kelong yang tahan hingga 5-8 tahun di laut.

Ada nelayan membuat Kelong dengan menggunakan tangan-tangan tukang khusus yang sudah terlatih dan berpengalaman.

"Kelong bisa dibuat bahan dasarnya dari kayu gelondongan berbagai ukuran yang diikat-ikat persegi empat, di bawahnya diberi drum-drum untuk mengapung, lalu dilengkapi mesin kapal dan jaring serta dipasang papan di atasnya, dipasangi lampu-lampu dan diberi rumah-rumahan untuk tempat memasak ikan hasil tangkapan sekaligus tempat istirahat nelayan," jelas pak Jang.

"Sebaliknya, ada juga nelayan hanya menancapkan kayu kedasar laut (200-300 meter dari pantai)," ujarnya.

Untuk menempatkan kelong-kelong di tengah laut konon nelayan harus tahan pantangan yang tak boleh dilanggar, misalnya wanita yang lagi haid tidak boleh naik ke kelong.

"Tidak boleh bawa sandal dari darat, kecuali sandal yang memang disiapkan dikelong, perbanyak berdoa, sebelum Kelong turun ada upacara khusus seperti menyediakan nasi kuning, daun-daunan khusus, air yang didoakan dan lain sebagainya."

Berbagai informasi pun di dengar, kalau kelong-kelong yang ada dilaut ternyata sebagian besar bukan milik nelayan setempat.

"Kelong itu dimiliki oleh orang-orang tertentu saja karena harganya yang sangat mahal," kata Pak Jang lagi.

"Kebanyakan pemilik Kelong bisa jadi milik Toke Tiongha begitu masyarakat setempat menyebutnya, selebihnya adalah sebagian kecil milik nelayan setempat yang cukup berada."

Kelong-kelong Milik Toke Tiongha dioperasikan oleh masyarakat setempat atau pendatang dari luar desa, bisa dengan sistem bagi hasil 50:50, sedang yang milik nelayan setempat biasanya dikelola sendiri.

Memasuki musim angin utara, nelayan mulai tepikan Kelong.

Satu Toke Tiongha bisa punya 10 sampai dengan 20 buah kelong, sedang yang milik nelayan setempat paling hanya satu atau dua buah saja.

Kelong yang dikelola oleh Pak Jang yang ditempatkan di tengah laut milik orang lain.

"Selain itu kita juga harus punya kapal kayu untuk penarik kelong ke laut," ujarnya.

"Dalam satu tahun Kelong hanya beroperasi selama delapan bulan saja. Selama empat bulan Kelong istirahat melaut karena musim hujan dan badai."

Tangkapan utama kelong adalah ikan bilis atau ikan teri, selebihnya bisa juga dapat ikan, sotong dan lain-lain, cerita dia.

Memang informasi-informasi dari kalangan nelayan menyebutkan jika cuaca bagus, maka dalam satu malam Kelong bisa menghasilkan 20-100 ancak ikan bilis.

Satu ancak setara dengan 5 kg ikan bilis kering selesai dijemur. Harga satu kilo ikan bilis di toke adalah Rp. 40 ribu.

Jika dapat 50 ancak saja semalam, maka 5 kg x 50 ancak = 250 Kg. Hasil ini jika dikalikan duit 250 kg x Rp. 40 ribu = Rp. 10 juta/malam.

Bila sistem bagi hasilnya 50:50, maka nelayan dan pemilik kelong membawa duit pulang masing-masing Rp. 5 juta/malam.

Tetapi seiring waktu hasil tangkapan nelayan pun semakin berkurang, bisa-bisa sekarang ini nelayan hanya membawa 5-10 ancak saja per malam.

Para nelayan mengemukakan, penyebab berkurangnya hasil tangkapan karena banyaknya kapal -kapal besar ditengah laut.

Aktifitas masyarakat Desa Busung Panjang memang diketahui mayoritas sebagai nelayan penangkap ikan bilis.

"Kerja kami di sini sudah puluhan tahun hidup di laut mencari nafkah untuk keluarga dengan usaha kelong bilis. Pekerjaan ini pun sudah menjadi tradisi," kata pak Jang.

"Kalau badan penat tidak ke laut, kalau sehat baru bisa turun kelaut yang bisa dilakukan mulai pukul 17.00 Wib dan pulang pukul 08.00 Wib," ungkapnya.

Pak Jang menyebutkan rincian modal jika memulai penangkapan ikan bilis.

Kelong di tengah laut

Untuk setiap satu kali pergi dibutuhkan dana Rp100.000 guna keperluan, yakni minyak solar motor pompong Rp.20.000, minyak tanah untuk masak ikan bilis Rp.50.000, gula dan kopi Rp.20.000, dan Rp.10.000 makanan untuk roti.

"Tiap bulan hanya bisa bekerja selama 25 hari saja karena kelong saya berada di laut sehingga kalau bulan terang tak dapat melaut," terangnya yang di pemukimannya terlihat hasil tangkapan ikan bilis dijemur dan dikeringkan langsung dan selanjutnya akan dibawa dijual ke toke penampung ikan di Kecamatan Singkep.

Di akhir cerita Pak Jang juga curahan hati (curhat) bahwa menangkap ikan bilis dengan kelong banyak suka dukanya.

Kalau rezki tidak bagus, kadang bermalam-malam tidak dapat apa-apa.

"Apalagi kalo laut tercemar, alamat tidak melautlah hingga minyak habis menjadi gumpalan hitam ke darat, kadang perlu sebulan baru laut bersih kembali," keluh Pak Jang.

Diapun berharap pemerintah setempat cepat tanggap melihat keadaan ini.

Selain itu pemerintah bisa membantu nelayan setempat bisa memiliki Kelong sendiri.

Kemudian pengurusan kayu-kayu untuk membuat kelong juga jangan dipersulit sehingga harga Kelong bisa lebih murah.

Sebegitu sulitnya nelayan untuk mencari nafkah dilaut, ada nelayan yang kerjanya juga pembawa kapal penarik kelong, sedang anaknya mengawasi tali kelong yang diikat ke kapal, tapi nelayan harus tahu jalurnya, kalo tidak kelong bisa nyangkut di batu cadas.

Sesampai ditengah laut jangkar kelong dilepas, lalu dipasang semua jaring, lampu dan sebagainya.

Setelah itu kembali ke darat, kelong ditinggal begitu saja, di kejauahan nampak banyak sekali kelong yang sama.

Jumlah kelong yang terdaftar hampir 20 an lebih di koperasi desa, tapi kehidupan dan pendapatan nelayan di desa ini semakin terus menyusut, kata Burhanuddin, Kepala Desa (Kades) Busung Panjang.

Penduduk Desa Busung Panjang, Kecamatan Kepulauan Posek, Lingga berjumlah 230 Kepala Keluarga (KK) yang 80% mata pencahariannya sebagai nelayan, khususnya nelayan ikan bilis.

Nelayan di Lingga

"Selain ikan bilis, kerja pokok lainnya mencari kepiting atau rajungan dari alat tangkap bubu," jelas Burhanuddin.

Menurutnya, potensi nelayan penangkapan ikan bilis di desa ini memang sangat lumayan, nelayan bisa menghasilkan hasil tangkapannya rata-rata setengah ton per harinya.

"Hasil tangkapan ikan bilis banyak diminati masyarakat luar daerah, bahkan ada yang dari Jambi, Sumatera Utara bahkan negara tetangga Malaysia dan Singapura."

"Nelayan juga menghadapi kendala misalnya minimnya BBM jenis solar dan minyak tanah untuk perebusan ikan bilis saat dilaut," terangnya.

Masih minimnya BBM untuk keperluan nelayan dalam berusaha, kelihatan menghambat roda perekonomian nelayan. Sepertinya pemerintah setempat segera membantu dalam berkecukupannya BBM ini. (rp.sdp/*)

Tags : nelayan lingga, kepri, nelayan utamakan tangkap ikan bilis, ikan bilis mudah didapat, ikan bilis masih menguntungkan,