Linkungan   2024/05/01 14:40 WIB

Perjuangan Slaman Ubah Lahan Bakau Kritis Jadi Ekowisata Sungguh Berat, 'Sampai Dituduh Hingga Dianggap Gila’

Perjuangan Slaman Ubah Lahan Bakau Kritis Jadi Ekowisata Sungguh Berat, 'Sampai Dituduh Hingga Dianggap Gila’
Usaha Slaman menyelamatkan mangrove

LINGKUNGAN - Slaman berjuang selamatkan bumi, dengan mengubah lahan bakau kritis jadi ekowisata. Sungguh berat sampai dituduh dan dianggap dirinya gila.

Kondisi lahan mangrove yang kritis di pesisir Pamekasan, Jawa Timur, mendorong Slaman melestarikan mangrove di pesisir desanya hampir 40 tahun lalu.

Kini, inisiatifnya berkembang menjadi salah satu destinasi ekowisata sekaligus menggerakkan perekonomian warga.

Sekitar 38 tahun lalu, pada 1986, tutupan mangrove di pesisir Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, hanya sekitar 19 hektare.

Kondisi lahan mangrove di wilayah itu kritis karena sering ditebang warga untuk dijadikan kayu bakar. Akibatnya, abrasi selalu menjadi ancaman tiap bulannya.

Slaman, yang kala itu masih duduk di bangku SMP, ingat betul bagaimana air laut merusak tambak warga hingga masuk ke perkampungan.

”Setiap musim pasang besar, banyak tambak-tambak ini yang sering jebol, rusak akibat abrasi karena tidak ada tanaman mangrove,” kata Slaman kepada wartawan.

Sejak itu, warga Dusun Lembung Utara yang berlokasi di Desa Lembung, Pamekasan ini berinisiatif melestarikan mangrove di pesisir desanya.

Slaman mengaku sempat dianggap gila dan disebut sebagai "monster laut" karena membuat mereka yang beraktivitas di sekitar hutan mangrove merasa ketakutan.

Usaha Slaman menyelamatkan mangrove di pesisir Madura sempat ditentang warga.

Ia kerap mendapat ancaman hingga teror karena aktivitasnya melestarikan lingkungan.

Slaman pantang menyerah dan upayanya mengubah pola pikir warga berbuah hasil.

“Perlahan-lahan mereka berbalik, mulai sadar bahwa mangrove ini tidak boleh dirusak, malah membantu dalam hal ekonomi,” tutur Slaman.

Berkat perjuangan selama kurang lebih 38 tahun, luas hutan mangrove di pesisir Desa Lembung kini mencapai 45 hektare.

Tanaman di atas lahan milik Perhutani itu kemudian disulap menjadi ekowisata.

Menanam mangrove sejak masih SMP

Pada suatu pagi akhir Maret silam, sebelum air laut menggenangi pesisir Desa Lembung, Slaman menenteng 10 bibit mangrove di kedua tangannya yang tampak kekar.

Berbekal sebilah linggis, Slaman kemudian menggali tanah sedalam 20 cm dan menancapkan satu persatu bibit mangrove di kawasan yang mulai gundul.

Slaman kemudian berkeliling untuk melihat bibit yang sudah ditanam sebelumnya. Ia menyusuri jembatan kayu yang membelah hutan mangrove seluas 45 hektar.

Aktivitas menanam bibit dan memantau kondisi mangrove menjadi salah satu rutinitas Slaman sejak memutuskan untuk melestarikan hutan bakau di desanya.

Pria berusia 54 tahun itu mulai melestarikan mangrove sejak remaja, ketika dirinya duduk di bangku SMP pada 1986.

Aktivitas menanam bibit dan memantau kondisi mangrove menjadi salah satu rutinitas Slaman sejak memutuskan untuk melestarikan hutan bakau di desanya.

Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di pinggir pantai untuk menanam dan menjaga mangrove dari kerusakan.

“Dulu dari tahun 1986 setiap pulang sekolah kalau [air laut] lagi surut, sore selalu ke mangrove,” kata Slaman.

Slaman prihatin dengan ancaman abrasi yang kerap merusak lahan di kawasan pesisir, terutama tambak.

Kondisi itu yang kemudian menggerakkan hatinya untuk melestarikan mangrove di desanya.

“Kalau musim purnama, ini sering kali air laut masuk ke perkampungan, sampai masuk ke dapur,” kenang Slaman.

Namun, niat baik Slaman melestarikan mangrove di ujung timur Pamekasan ini tidak langsung mendapat respons positif dari warga.

Justru banyak yang menentang aksi bapak dua anak ini.

Seperti ibu-ibu pencari kerang bambu atau lorjhu’ yang merasa terganggu karena aktivitas Slaman memperluas lahan mangrove dianggap mengancam habitat biota laut yang menjadi mata pencaharian warga.

“Kaum ibu yang mencari lorjhu' itu khawatir dengan ditanami mangrove, lorjhu' tidak ada. Padahal lokasi lorjhu' itu di depan, sementara yang kami tanami di belakang,” kata Slaman.

Tak jarang, ibu-ibu pencari kerang laut merusak mangrove yang baru ditanam. Bahkan, pos tempat Slaman memantau mangrove juga dibakar.

“Sering tali dari pos kerja atau pos pantau kami, tempat istirahat kami, talinya dibakar. Bahkan gedeknya dulu sempat separuh kebakar juga,” jelas Slaman.

Selain pencari lorjhu', banyak juga ibu-ibu pencari kayu bakar menebangi tanaman mangrove yang sudah besar dan berakar.

Padahal, Slaman sudah melarangnya.

'Dianggap orang gila’ dan 'monster laut'

Penolakan demi penolakan terus dihadapi Slaman selama bertahun-tahun meskipun sudah melakukan sejumlah pendekatan dan mengedukasi warga.

Sejumlah warga masih terus mengganggu aktivitasnya. Bahkan, sejumlah pihak menghasut warga untuk menolak penanaman mangrove.

Berkat perjuangan selama kurang lebih 38 tahun, luas hutan mangrove di pesisir Desa Lembung kini mencapai 45 hektare. Tanaman di atas lahan milik Perhutani itu kemudian disulap menjadi ekowisata.

Yang paling parah, aku Slaman, dia diisukan sebagai spionase pemerintah karena selalu menjaga mangrove setiap hari.

“Dianggap orang gila karena enak-enak istirahat tapi ke laut tanam mangrove,” kata Slaman.

“Belakangan yang santer dianggap monster laut karena membuat mereka yang beraktivitas di sekitar mangrove merasa ketakutan,”

Namun, Slaman masih tetap dengan pendiriannya untuk melestarikan mangrove. Sejak awal ia sudah menyadari aksinya tidak akan langsung disambut baik warga.

”Saya punya prinsip setiap kebaikan itu tidak selalu mulus, tidak selalu lancar, pasti ada kendala-kendala, dan dari kendala itu saya belajar,” kata Slaman.

Setelah berusaha mengajak warga sejak 1986, upaya Slaman baru membuahkan hasil pada tahun 2010.

Satu persatu warga yang awalnya menentang, akhirnya ikut bergabung dan membantu Slaman, terutama kaum ibu-ibu.

Warga beralih mendukung Slaman setelah ia menyulap buah mangrove menjadi kopi.

Kopi berbahan dasar buah mangrove ini berasal dari jenis Rhizophora stylosa yang banyak tumbuh di pesisir Desa Lembung.

”Pada waktu saya punya konsep membuat kopi mangrove, mereka dengan sendirinya merapat ke kami. Terus mereka saya kasih peran untuk mencari buah mangrove.”

”Perlahan-lahan mereka berbalik, mulai sadar bahwa mangrove ini tidak boleh dirusak, malah membantu dalam hal ekonomi. Sehingga pada waktu itu mereka berduyun-duyun mencari buah mangrove,” katanya.

Slaman mendapat inspirasi membuat kopi dari buah mangrove setelah ia memastikan bahwa kandungannya tidak berbahaya apabila dikonsumsi.

Ia juga mencoba untuk mengolahnya.

Biji mangrove yang bisa diolah menjadi kopi biasanya yang buahnya sudah tua, ditandai dengan ranting berwarna kuning keemasan.

"Yang muda tidak bisa, nektarnya tinggi, pahit, gatal dan sebagainya," terang Slaman.

Proses pembuatannya juga tidak sulit. Slaman hanya perlu membelah buah mangrove, kemudian direndam selama tiga hari tiga malam untuk menghilangkan tanin – senyawa alami yang ditemukan dalam makanan dan minuman tertentu, seperti teh, kopi, cokelat – biasanya ditandai dengan jernihnya air rendaman.

Setelah itu, buah mangrove yang sudah direndam, dijemur di bawah sinar matahari.

Setelah kering, buah mangrove kemudian dihaluskan dan disangrai untuk mendapatkan warna hitam menyerupai kopi.

Slaman juga melibatkan ibu-ibu di desanya dalam proses pembuatan kopi mangrove dan membentuk Kelompok Tani Hutam (KTH) Sabuk Hijau.

Selain mengolah buah mangrove, kegiatan dari KTH Sabuk Hijau ini adalah melakukan pembibitan, penanaman mangrove, pengelolaan ekowisata hingga pengawasan hutan lindung.

Warga yang sebelumnya menjadi perusak akhirnya ikut menjaga tanaman mangrove.

Belakangan, Slaman tidak hanya mengolah buah mangrove menjadi kopi, tapi juga teh, madu, nugat, roti, hingga pewarna dasar batik.

Masyarakat lebih melihat hasil

Salah satu warga yang menolak dan kini ikut membantu Slaman adalah Sunsiyah. Warga Dusun Bangkal, Desa Lembung ini dulunya adalah pencari kerang bambu.

”Dulu saya menolak Pak Slaman untuk menanam mangrove soalnya takut mengganggu aktivitas saya sebagai pencari lorjhu’. [Tapi] setelah saya perhatikan untuk penanaman mangrove cukup banyak manfaatnya,” kata Sunsiyah.

Awalnya Sunsiyah tidak langsung menerima ajakan Slaman. Upaya edukasi selama bertahun-tahun ditolaknya mentah-mentah.

Sampai pada titik Slaman mampu mengelola buah mangrove. Ia pun rela meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai pencari lorjhu'.

"Jadi enggak sia-sia buah mangrove sekarang dibuat kopi sama Pak Slaman," lanjut perempuan 52 tahun tersebut.

Sunsiyah kemudian beralih mencari buah mangrove untuk dijual kepada Slaman.

Ekowisata Mangrove Lembung didirikan berdasarkan inisiasi warga yang ditindaklanjuti dengan usulan ke Perhutani dan diteruskan ke Dinas Pariwisata Kabupaten Pamekasan.

Ia juga membantu mengelola ekowisata mangrove yang dibuka pada tahun 2019.

Sunsiyah juga menjadi ‘mata-mata’ Slaman. Ia selalu melapor bilamana ada warga yang merusak tanaman mangrove di pesisir Desa Lembung.

Butuh waktu sekitar 24 tahun bagi Slaman untuk mengubah pola pikir warga yang menentangnya.

Pengamat sosial dari Universitas Madura, Imadoeddin, menilai sulitnya masyarakat untuk langsung mendukung Slaman karena belum melihat hasil atau manfaat dari pelestarian mangrove.

“Ini bukan penolakan sebetulnya, tapi masyarakat itu alot karena masih menunggu mungkin kira-kira seperti apa perkembangannya,” kata Imadoeddin.

“Memang tidak mudah yang dilakukan oleh Pak Slaman itu, tetapi kemudian karena kegigihannya dan mampu membuktikan kepada masyarakat bahwa penataan mangrove yang ada di Lembung itu bisa bermanfaat,” sambungnya.

Menurut Imadoeddin, Slaman akhirnya bisa mendapat dukungan karena tanaman mangrove di Desa Lembung berdampak secara ekologis dan masyarakat juga bisa mendapatkan keuntungan ekonomi.

Menamam mangrove di Madura tidak gampang

Peneliti mangrove dari Universitas Islam Madura, Endang Tri Wahyurini, menyebut lahan mangrove di Madura terus berkurang setiap tahun.

“Kondisi mangrove di Madura secara umum kita bisa mengatakan bahwa cukup kritis ya, banyak yang rusak,” kata Endang.

Menurut Endang, berdasarkan data PMN (Peta Mangrove Nasional), lahan mangrove di Madura pada tahun 2014 seluas 15.118,2 hektare.

Ilustrasi penanaman kembali hutan mangrove

Sementara berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Jatim, luas mangrove pada tahun 2018 hanya 6.105, 21 hektare.

"Kerusakan mangrove terjadi karena dua faktor, faktor alam dan aktivitas manusia. Untuk di Madura lebih disebabkan karena tingginya alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, bangunan dan rumah atau lainnya," terang Endang.

Lulusan S3 Universitas Sebelas Maret Surakarta ini tak menampik bahwa ancaman abrasi di pesisir Madura terus menghantui masyarakat.

Penyebabnya karena luas lahan mangrove yang kian menurun dan ombak yang cukup besar di beberapa wilayah.

”[Aksi Slaman] itu memang perlu dicontoh, banyak sekali manfaatnya. Jadi kondisi mangrove di sana selalu dilakukan penanaman dan perawatan,” lanjut Endang.

Endang juga mengungkap bahwa pertumbuhan mangrove di Madura cukup rendah dibanding wilayah lain. Karena lokasi yang bisa ditanami mangrove rata-rata substratnya pasir berbatu dan sedikit lumpur.

"Hanya beberapa lokasi saja yang berlumpur dan bisa ditumbuhi mangrove dengan baik. Jika satu musim tanam per tahun, bisa dikatakan kurang dari 70 persen [pertumbuhannya]," kata Endang.

"Hal ini juga dipengaruhi oleh salinitas, kandungan organik serta hama seperti teritip yang belum menemukan cara mencegahnya."

Menurut Endang, aksi Slaman sangat bedampak positif bagi masyarakat pesisir yang merasakan langsung keberadaan mangrove sebagai garda terdepan dalam menjaga dari ancaman bencana abrasi.

“Kalau dihitung dari mitigasi, ini sudah berapa triliun. Itu jarang dihitung, padahal setiap hari kita dihadapkan dengan bencana,” tegas Endang.

Mangrove, kata Endang, juga mampu menyerap karbon lima kali lebih besar daripada tanaman terestrial lainnya. Sehingga manfaatnya juga bisa dirasakan masyarakat secara luas.

Ekowisata Mangrove Lembung

Sejak tahun 2019, hutan mangrove yang berada di Desa Lembung disulap menjadi Ekowisata.

Tempat wisata ini dikelola bersama oleh Dinas Pariwisata, Perhutani, Pokdarwis dan pemerintah desa.

Menurut Slaman, Ekowisata Mangrove Lembung didirikan berdasarkan inisiasi warga yang ditindaklanjuti dengan usulan ke Perhutani dan diteruskan ke Dinas Pariwisata Kabupaten Pamekasan.

Keberadaan Ekowisata Mangrove Lembung dinilai berdampak dari sisi ekonomi karena hasil tangkapan nelayan bisa dijual kepada wisatawan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dibawa ke pasar.

Perhatian pemerintah terhadap keberadaan mangrove, kata Slaman, juga semakin besar setelah hutan lindung tersebut disulap menjadi tempat wisata.

Jenis mangrove yang berada di Desa Lembung cukup beragam. Tak jarang, banyak mahasiswa dan dosen yang menjadikannya sebagai tempat penelitian.

"[Hutan mangrove] di Lembung itu bisa untuk edukasi, riset-riset dan sebagainya selain diambil manfaat pengelolaan kopi dan sebagainya," kata Endang Tri Wahyurini yang pernah melakukan penelitian mangrove di Lembung.

Seornag bocah laki-laki sedang memancing di kawasan bakau yang ditanami kembali di Madura, Jawa Timur pada 26 Februari 2010.

Jenis mangrove yang ada di Desa Lembung di antaranya Rizhopora stylosa, Rizhopora mucronata, Rizhopora apiculata, Sonneratia alba, Avicennia lanata, Aviccenia marina, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Bruguiera gymnorrhiza, dan Xylocarpus.

Darussalam, 30 tahun, warga Kecamatan Pasean, Pamekasan, menyambut positif keberadaan Ekowisata Mangrove di Desa Lembung.

Darus sudah beberapa kali berkunjung bersama keluarganya.

Darus menilai keberadaan Ekowisata Mangrove Lembung menambah pilihan tempat wisata di Kabupaten Pamekasan, di samping manfaat keberadaan hutan mangrove bagi lingkungan.

"Termasuk wisata yang baguslah untuk Pamekasan, di samping memang mangrove mempunyai dampak positif terhadap [pencegahan] abrasi," katanya. (*)

Tags : Slaman, Perjuangan Slaman Ubah Lahan Bakau Kritis Jadi Ekowisata, Perjuangan Slaman Berat, Perubahan iklim, Lingkungan, Alam, Pelestarian,